Skip to main content

Siapa yang Kecanduan Mr.DIY? Tadinya Cuma Mau Lihat-Lihat, Ujungnya Tangan Gatel Beli

angintropis.com
By -
0

Coba jujur deh. Ada berapa banyak dari kalian yang niat awalnya cuma "mau lewat sebentar" ke Mr.DIY, terus keluar toko bawa dua kantong plastik penuh barang yang bahkan nggak ada di daftar belanja? Kalau kamu ngangguk sambil senyum-senyum sendiri baca kalimat ini, selamat, kita satu geng. Geng "Korban Mr.DIY" yang anggotanya ternyata jauh lebih banyak dari yang kita kira.

Saya sendiri baru sadar separah apa "penyakit" ini waktu suatu sore, pulang kerja, mampir ke Mr.DIY cuma buat beli satu barang doang: lampu bohlam yang putus di kamar mandi. Simpel kan? Masuk, ambil bohlam, bayar, pulang. Total waktu seharusnya nggak sampai lima menit.

Nyatanya? Saya keluar toko 40 menit kemudian dengan bohlam yang saya cari, plus rak plastik kecil yang "kayaknya bakal kepake", gantungan baju model baru, dua pack sticky notes warna-warni yang gemesin, obeng set yang "siapa tahu butuh", dan permen di kasir yang entah kenapa selalu berhasil menggoda mata pas antre bayar.


Kenapa Mr.DIY Itu Kayak Perangkap Manis yang Kita Masuki dengan Senang Hati

Ini yang menarik. Mr.DIY itu bukan toko biasa. Kalau supermarket biasa punya alur yang jelas dan cepat, Mr.DIY justru didesain—entah sengaja atau nggak—supaya kita muter-muter dulu sebelum ketemu barang yang kita cari. Rak-raknya rapat, barangnya ribuan jenis, dan yang paling berbahaya: harganya murah-murah semua.

Coba pikir logikanya. Satu barang harganya cuma delapan ribu, sepuluh ribu, lima belas ribu. Otak kita otomatis mikir, "ah murah ini, nggak masalah lah." Padahal kalau ditotal sepuluh barang kecil yang masing-masing sepuluh ribu, itu udah seratus ribu rupiah yang keluar dari dompet buat barang-barang yang setengahnya bahkan belum tentu kepake.

Saya punya teman, sebut saja namanya Dinda, yang punya kebiasaan aneh tapi relate banget. Setiap kali stres kerjaan numpuk, dia bilang, "udah ah, mending healing ke Mr.DIY aja." Bukan spa, bukan nonton bioskop, tapi ke Mr.DIY. Katanya jalan-jalan lihat rak organizer, alat dapur unik, sama pernak-pernik lucu itu bikin pikirannya adem. Ya walaupun ujung-ujungnya dompetnya yang jadi korban stres pengganti.


Barang-Barang yang Selalu Berhasil Bikin Tangan Gatal

Kalau ngomongin apa aja sih yang biasanya bikin kita nggak tahan buat nggak beli, daftarnya panjang banget. Tapi ada beberapa kategori yang menurut saya jadi biang kerok utama kenapa kita selalu pulang bawa lebih dari niat awal.

Pertama, barang-barang organizer dan storage. Kotak penyimpanan, rak susun, keranjang lipat—semuanya kelihatan solutif banget buat rumah yang berantakan. Rasanya kayak, "oh iya, kalau ada ini kan rapi tuh lemari." Padahal beli rak organizer nggak otomatis bikin kita jadi orang yang rapi. Kadang raknya cuma numpuk lagi di sudut, isinya barang random yang tadinya mau dirapikan.

Kedua, alat dapur unik yang kelihatan praktis. Slicer buaya, alat pengupas nanas otomatis, cetakan telur bentuk beruang. Semuanya kelihatan genius pas di toko. Tapi begitu sampai rumah? Sering banget cuma dipakai sekali dua kali terus nangkring manis di laci dapur sampai lupa fungsinya apa.

Ketiga, area alat tulis dan stationery. Ini area paling berbahaya buat saya pribadi. Pulpen warna-warni, notebook lucu, sticky notes bentuk-bentuk unik. Padahal di rumah udah numpuk stok pulpen yang belum habis tintanya. Tapi ya gitu, mata udah kadung jatuh cinta duluan sebelum otak sempat mikir logis.

Keempat, dan ini paling klasik, barang-barang di dekat kasir. Permen, gantungan kunci, mainan kecil, aksesoris HP murah. Ini strategi jualan yang sudah terbukti ampuh dari dulu, dan anehnya kita tetap saja kena setiap kali.


Kenapa Kita Susah Banget Bilang "Enggak" ke Mr.DIY

Sebenarnya ini bukan cuma soal barangnya murah. Ada beberapa hal psikologis yang bikin kita gampang tergoda.



Yang pertama jelas soal harga. Karena angkanya kecil-kecil, otak kita nggak menganggapnya sebagai "pengeluaran besar" walaupun kalau ditotal ternyata lumayan juga. Ini yang sering disebut fenomena penny gap, di mana kita lebih gampang mengeluarkan uang untuk barang murah karena merasa risikonya kecil, padahal kalau diakumulasi bisa jadi jumlah yang cukup mengagetkan.

Kedua, tata letak toko yang bikin kita eksplor lebih jauh. Semakin lama kita di dalam toko, semakin besar peluang kita nemu barang yang "eh lucu juga ini" padahal awalnya nggak niat cari itu.

Ketiga, faktor sosial. Sekarang banyak konten di media sosial yang isinya "haul belanja Mr.DIY" atau "barang recommended dari Mr.DIY yang wajib dibeli." Konten kayak gini bikin kita jadi penasaran dan pengen coba sendiri, padahal sebenarnya kita nggak butuh-butuh amat.

Dan yang terakhir, ada semacam kepuasan kecil setiap kali kita nemu barang unik dengan harga murah. Rasanya kayak menang undian mini. Perasaan ini yang bikin ketagihan, karena otak kita suka banget sama sensasi "nemu deal bagus."


Cerita Nyata: Waktu Saya Niat Belanja Sepuluh Ribu, Pulang Bawa Belanjaan Seratus Lima Puluh Ribu

Ini kejadian beberapa bulan lalu yang sampai sekarang masih saya inget karena lucu sekaligus bikin geleng kepala sendiri. Waktu itu saya cuma butuh satu barang: lakban bening buat packing paket jualan online. Saya kasih waktu ke diri sendiri, "oke lima menit doang, ambil lakban, bayar, keluar."

Tapi begitu masuk, mata saya kesambar rak sepatu lipat yang lagi diskon. Terus lanjut ke rak isolasi listrik yang warnanya lucu-lucu. Terus mampir ke bagian dekorasi rumah, nemu lampu tumblr kecil buat kamar. Belum selesai, saya lewat rak alat kebersihan, nemu sikat serbaguna yang katanya bisa buat bersihin sela-sela ubin. Lanjut lagi ke bagian mainan anak karena keponakan lagi ulang tahun.

Setelah semua itu, saya sampai di kasir dengan sembilan item di keranjang. Total belanja seratus lima puluh ribu rupiah, padahal niat awal cuma buat beli lakban seharga delapan ribu. Waktu itu saya cuma bisa ketawa sendiri sambil mikir, "ini toko apa sih, kok bisa se-magnetis ini."

Yang bikin lebih lucu lagi, sampai rumah saya baru sadar lakban yang jadi tujuan utama malah ketinggalan di kasir. Iya, satu-satunya barang yang saya niatin beli dari awal justru yang kelupaan bawa pulang.

https://www.mrdiy.com/id/

Tips Biar Nggak Terlalu Kalap Setiap Kali ke Mr.DIY

Bukan berarti saya anti belanja di Mr.DIY ya, karena jujur saya masih sering ke sana. Tapi setelah beberapa kali "insiden" belanja yang bikin dompet nangis, saya coba beberapa cara supaya lebih terkontrol.

Cara pertama yang paling ampuh adalah bikin daftar belanja dan pegang teguh daftar itu. Sebelum masuk toko, tulis di catatan HP barang apa saja yang benar-benar dibutuhkan. Begitu masuk, fokus cari barang itu dulu, baru kalau ada waktu dan budget lebih, boleh eksplor sedikit.

Cara kedua, bawa uang cash secukupnya. Ini trik lama tapi masih works. Kalau bayar pakai cash dan uangnya pas-pasan, otomatis kita jadi lebih selektif milih barang mana yang benar-benar penting.

Cara ketiga, kasih jeda waktu sebelum ambil barang yang nggak ada di rencana. Misalnya kalau nemu barang lucu yang bikin tangan gatal, coba tahan dulu, foto barangnya, terus lanjut belanja yang lain. Kalau di akhir masih kepikiran banget dan memang butuh, baru ambil. Kadang setelah beberapa menit, keinginan itu hilang sendiri.

Cara keempat, hindari area kasir kalau memang lagi berusaha hemat. Area itu sengaja didesain buat godaan terakhir, jadi kalau bisa langsung fokus ke kasir tanpa mampir-mampir dulu.


Jadi, Kamu Termasuk yang Mana?

Ada tipe orang yang beneran cuma beli sesuai kebutuhan, tapi kalau boleh jujur, tipe ini jarang banget saya temui. Kebanyakan dari kita, termasuk saya, masuk ke kategori "korban impulsif Mr.DIY" yang setiap kali janji ke diri sendiri "kali ini nggak akan kalap," eh ujung-ujungnya tetap saja ada satu dua barang tambahan yang nyelip di kantong belanja.

Dan sebenarnya nggak sepenuhnya salah kita juga sih. Toko ini memang didesain sedemikian rupa supaya kita betah lama-lama di dalam, mengeksplor rak demi rak, sampai akhirnya nemu barang-barang kecil yang entah kenapa terasa "wajib dibeli sekarang juga."

Yang penting, selama belanja itu masih dalam batas wajar dan nggak mengganggu kondisi keuangan, sesekali kalap di Mr.DIY sah-sah saja kok. Anggap saja ini semacam self-reward kecil yang murah meriah. Toh dibanding hobi lain yang jauh lebih boros, belanja printilan di Mr.DIY masih terhitung ramah di kantong.

Jadi, gimana? Sudah siap cerita pengalaman kalap belanja Mr.DIY versi kamu sendiri di kolom komentar? Saya yakin ceritanya nggak kalah seru dari pengalaman saya tadi.

Tags:

Post a Comment

0Comments

Terima kasih sudah berkunjung di angintropis.com🌼

Post a Comment (0)

angintropis.com

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn more
Ok, Go it!