Kalau kamu sering bepergian Surabaya–Malang lewat jalan tol, pasti pernah melihat papan hijau bertuliskan Kejapanan. Sekilas kata itu terdengar seperti "ke-Japan-an", seolah gerbang tol ini punya kaitan dengan Jepang. Padahal lokasinya ada di sebuah desa di lereng Gunung Penanggungan, Jawa Timur, dan asal-usul namanya jauh lebih tua daripada hubungan Indonesia–Jepang mana pun.
Artikel ini membahas Gerbang Tol Kejapanan dari beberapa sisi: di mana letaknya, kenapa namanya terdengar unik, bagaimana sejarah ruas tolnya, dan tempat menarik apa saja yang ada di sekitarnya.
Sekilas Tentang Gerbang Tol Kejapanan
- Nama gerbang: Gerbang Tol Kejapanan (dalam pengumuman lalu lintas juga muncul sebutan Kejapanan Utama dan Kejapanan I)
- Ruas tol: Jalan Tol Surabaya–Gempol (Surgem)
- Lokasi: Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
- Perkiraan posisi: sekitar KM 41 menurut situs Infotol.id
- Terhubung ke: Tol Gempol–Pasuruan, Tol Gempol–Pandaan, serta jalur menuju Malang dan Probolinggo
Letak dan Posisi Gerbang Tol Kejapanan di Jawa Timur
Secara administratif, gerbang tol ini berada di Desa Kejapanan, salah satu dari 15 desa di Kecamatan Gempol. Gempol sendiri terletak di sisi barat Kabupaten Pasuruan. Di sebelah utara, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Sidoarjo, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Mojokerto.
Kalau dilihat dari peta jalan tol, Kejapanan berada di ujung selatan Tol Surabaya–Gempol, tidak jauh dari Simpang Susun Gempol. Di kawasan Gempol inilah jalur tol bercabang: ke arah timur menuju Pasuruan dan Probolinggo lewat Tol Gempol–Pasuruan, dan ke arah selatan menuju Pandaan dan Malang lewat Tol Gempol–Pandaan. Karena itu, hampir semua kendaraan dari Surabaya yang hendak ke Malang, Batu, atau Tapal Kuda akan melewati kawasan ini.
Desa Kejapanan berbatasan dengan Desa Gempol di utara, Desa Legok di timur, Desa Karangrejo di selatan, dan Desa Carat di barat. Di dalamnya ada 12 pedukuhan.
Kenapa Namanya Terdengar Seperti "Jepang"?
Ini bagian yang paling menarik untuk pembaca yang suka hal-hal berbau Jepang. Nama Kejapanan tidak berhubungan dengan negara Jepang. Kata "Japan" di sini adalah nama tempat dalam bahasa Jawa yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan di Jawa Timur ada beberapa desa lain yang memakai nama Japan, misalnya di Mojokerto dan Jombang.
Jejak nama Japan bisa ditemukan dalam kitab Nagarakretagama yang ditulis tahun 1359 Masehi. Kitab itu mencatat perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Lumajang, dan salah satu tempat singgah yang disebut adalah Japan. Menurut catatan tersebut, saat berhenti di sana sang raja mendapati bangunan pertapaan dan candi yang sudah rusak. Ketika pulang, rombongannya dijemput pasukan di tempat yang sama.
Para ahli sejarah belum sepakat soal lokasi Japan yang dimaksud. Sebagian menunjuk Japan di Kecamatan Suko, Mojokerto. Namun Nanang Sutrisno, pengurus Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur, berpendapat bahwa Kejapanan lebih masuk akal karena letaknya di jalur lintas menuju wilayah timur Pulau Jawa. Jadi, soal itu masih bisa diperdebatkan, dan kamu bebas menilai sendiri.
Ada juga catatan dari profil desa. Menurut informasi yang dikumpulkan warga, wilayah ini dulu dikenal sebagai Penanggungan, mengikuti nama gunung di dekatnya. Pada masa awal pemerintahan desa di zaman kolonial, namanya berubah menjadi Djapanan, yang kemudian berkembang menjadi Kejapanan. Penelusuran sejarahnya sendiri, kata pengelola situs desa, masih terus berlangsung.
Kalau kamu penasaran dengan hal-hal lain yang sekilas terasa berbau Jepang tapi punya cerita berbeda, coba baca juga RT dan RW yang ternyata warisan tatanan masyarakat Jepang. Yang itu justru benar-benar punya kaitan sejarah.
Sejarah Singkat Ruas Tol Surabaya–Gempol
Tol Surabaya–Gempol resmi beroperasi sejak 26 Juli 1986 dan dikenal sebagai jalan tol tertua di Jawa Timur. Panjangnya sekitar 45 kilometer, dan kini menjadi bagian penting dari jaringan Tol Trans Jawa.
Perjalanan ruas ini sempat berliku. Bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo menenggelamkan sekitar 6 kilometer jalan tol di ruas Porong–Gempol, sehingga tol terputus cukup lama. Pemerintah kemudian memindahkan jalurnya secara bertahap. Ruas Kejapanan–Gempol sepanjang 3,55 kilometer dibuka pada 18 Mei 2015, sedangkan ruas Porong–Kejapanan sepanjang 6,45 kilometer diresmikan Presiden Joko Widodo pada 20 Desember 2018. Sejak itu jalur tol dari Surabaya sampai Gempol tersambung utuh kembali.
Artinya, Kejapanan bukan sekadar gerbang biasa. Ia menjadi salah satu titik penting dalam pemulihan jalur tol setelah bencana tersebut.
Salah Satu Titik Tersibuk Saat Mudik
Karena posisinya yang strategis, gerbang ini sering muncul di berita lalu lintas, terutama saat libur panjang. Menurut ANTARA Jawa Timur, PT Jasamarga Transjawa Tol memprediksi sekitar 333 ribu kendaraan akan melintasi Gerbang Tol Kejapanan Utama dan Kejapanan I selama periode 21 Maret sampai 1 April 2025, dengan puncak arus pada 1 April yang diperkirakan mencapai lebih dari 41 ribu kendaraan.
Bagi perantau yang pulang kampung ke arah Malang, Pasuruan, atau Probolinggo, gerbang ini hampir pasti dilewati. Kalau kamu suka membaca cerita seputar mudik, ada juga catatan tradisi mbolang saat mudik di kampung halaman.
Mengenal Desa Kejapanan
Desa Kejapanan berada di lereng Gunung Penanggungan, yang dalam tradisi Hindu-Buddha Jawa disebut Gunung Pawitra dan dianggap gunung suci. Tidak heran kalau di sekitarnya tersebar banyak candi dan petirtaan peninggalan masa lampau.
Desa ini juga berada di persimpangan jalur dari arah Mojokerto, Sidoarjo, dan Pasuruan menuju kawasan timur Jawa serta Malang di selatan. Meski sudah ada jalan tol, jalan provinsi yang membelah kawasan ini masih ramai dilalui kendaraan. Di desa ini juga terdapat balai desa, pasar, lapangan sepak bola, dan berbagai usaha warga. Nama Kejapanan pun akrab bagi banyak orang karena penyanyi dangdut Inul Daratista berasal dari daerah ini.
Tempat Menarik di Sekitar Gerbang Tol Kejapanan
Kalau kamu punya waktu lebih saat melewati kawasan ini, beberapa tempat berikut bisa jadi tujuan singgah:
- Petirtaan Belahan (Candi Belahan). Terletak di Desa Wonosunyo, Gempol, di lereng Gunung Penanggungan. Ini petirtaan atau pemandian kuno dari masa Raja Airlangga yang diperkirakan dibangun sekitar abad ke-11. Ada dua arca, Dewi Sri dan Dewi Laksmi, dengan air pegunungan yang mengalir jernih ke kolam di depannya. Jalan menuju lokasi bisa sempit dan menanjak, jadi berkendaralah dengan hati-hati.
- Candi Jolotundo. Petirtaan kuno lain di sisi Gunung Penanggungan yang masuk wilayah Mojokerto, cocok dikunjungi sekaligus jika ingin menjelajah situs peninggalan masa Airlangga.
- Candi Jawi di Prigen. Candi bercorak Hindu-Buddha yang terletak di kawasan Prigen, tidak jauh dari Pandaan.
- Gunung Penanggungan. Gunung yang relatif ringkas untuk didaki, dikenal banyak situs candi kecil di lerengnya. Pendakian sebaiknya dilakukan dengan persiapan yang baik dan mengikuti aturan basecamp setempat.
Jam buka, biaya masuk, dan kondisi akses bisa berubah, jadi cek informasi terbaru sebelum berangkat.
Tips Melintas di Gerbang Tol Kejapanan
- Pembayaran tol umumnya nontunai, jadi pastikan saldo kartu atau uang elektronik cukup sebelum berangkat.
- Tarif bisa berubah, jadi cek tarif terbaru lewat kanal resmi operator jalan tol.
- Hindari jam sibuk saat libur panjang. Arus balik ke arah Surabaya dan arus mudik ke arah Malang biasanya menumpuk di sekitar Gempol.
- Manfaatkan aplikasi peta untuk memantau kepadatan sebelum memilih rute.
- Kendaraan tinggi perlu memperhatikan rambu dan batas tinggi di setiap lajur gerbang.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Di mana letak Gerbang Tol Kejapanan?
Di Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada ruas Tol Surabaya–Gempol.
Apakah nama Kejapanan berhubungan dengan Jepang?
Tidak. Japan adalah nama tempat dalam bahasa Jawa yang sudah tercatat sejak masa Majapahit, bukan nama negara Jepang. Kemiripannya hanya kebetulan bunyi.
Tol apa saja yang terhubung dengan kawasan ini?
Tol Surabaya–Gempol terhubung dengan Tol Gempol–Pasuruan menuju Probolinggo, dan Tol Gempol–Pandaan yang menyambung ke Tol Pandaan–Malang.
Gerbang Tol Kejapanan ternyata menyimpan lebih banyak cerita daripada sekadar tempat menempelkan kartu tol. Ia berdiri di wilayah yang namanya sudah muncul dalam kitab kuno, di kaki gunung yang dianggap suci, dan di persimpangan yang sampai sekarang jadi jalur utama antara Surabaya, Malang, dan Tapal Kuda. Lain kali kalau kamu lewat sini, semoga papan bertuliskan Kejapanan itu terasa sedikit lebih bermakna. Kalau kamu punya cerita atau foto perjalanan di sekitar Gempol, tulis di kolom komentar ya.
Referensi
- Wikipedia Indonesia, Jalan Tol Surabaya–Gempol
- Wikipedia Indonesia, Jalan Tol Gempol–Pasuruan dan Jalan Tol Gempol–Pandaan
- Wikipedia Indonesia, Kejapanan, Gempol, Pasuruan dan Gempol, Pasuruan
- Pawarta Jawa Timur (20 Januari 2026), Desa Kejapanan Gempol Pasuruan dalam Panggung Sejarah
- Situs Desa Kejapanan, Profil dan sejarah desa
- Infotol.id, Gerbang Tol Kejapanan Utama KM 41
- ANTARA Jawa Timur, Arus lalu lintas Gerbang Tol Kejapanan Pasuruan (2025)
- detikTravel, Wisata sejarah petirtaan Belahan di Pasuruan
- Kompas.com, Sejarah Candi Belahan
Catatan: informasi tarif, jam operasional, dan kondisi lalu lintas dapat berubah. Untuk data terbaru, rujuk kanal resmi operator jalan tol dan pengelola tempat wisata.



Terima kasih sudah berkunjung di angintropis.com🌼