Skip to main content

Situ Sangiang Talaga Manggung: Danau Yang Dahulunya Merupakan Sebuah Kerajaan.

Kabupaten Majalengka banyak menyimpan tempat wisata alam yang indah, selain udara yang sejuk, makanan lezat khas Sundapun dapat kita  nikmati dengan harga yang bersahabat pula. Jika berkunjung ke kota ini jangan lewatkan untuk mengunjungi salah satunya obyek wisata yang di sebut Situ Sangiang, terletak disebelah selatan Kabupaten Majalengka. Jarak Kabupaten Majalengka jika di tempuh dari Jakarta masih bisa ditempuh hanya cukup dengan kurang lebih 3 jam 8 menit dengan jarak tempuh kira-kira 189,9 Km jadi sangat hemat waktu jika menginginkan traveling dekat biaya terjangkau.


Kembali mengulas tentang Situ Sangiang, Situ Sangiang merupakan sebuah danau yang menyimpan tentang sejarah kerajaan Talaga Manggung  (berdiri kira-kira pada abad ke-14), tepatnya letak Situ Sangiang berada di desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Posisi Situ Sangiang, Majalengka berada dikawasan hutan lindung wisata alam, oleh penduduk setempat Situ Sangiang ini merupakan tempat yang dikramatkan karena nilai sejarahnya, dan yang perlu diketahui pula sebelum memasuki area danau terdapat sebuah makam sunan yang kita kenal dengan sebutan "Sunan Parung".


Sejarah Situ Sangiang; Konon pada abad ke-14 berdiri sebuah kerajaan yang terletak di wilayah sebelah selatan kabupaten Majalengka. Kerajaan itu bernama "Kerajaan Talaga Manggung" yang bertahta pada masa itu yaitu Sunan Talaga Manggung, beliau mempunyai 2 orang anak satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Putra laki-laki bernama Raden Panglurah sedangkan anak perempuannya bernama Ratu Simbar Kencana.

Dikerajaan ini anak perempuan Sunan Talaga Manggung (Ratu Simbar Kencana) memiliki suami yang bernama Palembang Gunung. Beberapa sumber sejarah menyebutkan suami dari Ratu Simbar Kencana (Palembang Gunung) memendam impian berkeinginan menjadi raja di kerajaan Talaga Manggung. Dari awal keinginan itu Palembang Gunung menghimpun kekuatan untuk mewujudkan keinginannya bersama orang kepercayaan raja yang bernama Centang Barang, menurut cerita sejarah Centang Barang memiliki tombak yang diyakini mampu mengalahkan sang raja.

Singkat cerita sang raja terbunuh oleh orang kepercayaanya sendiri (Centang Barang), setelah terbunuhnya sang raja tiba-tiba Centang Barang bertingkah aneh, menjadi gila mengigit-gigit anggota badannya sendiri hinga tewas. Mendengar kabar tersebut Palembang Gunung bergegas untuk menengoknya. Akan tetapi sesampai dilokasi Raden Palembang Gunung tidak menjumpainya, keraton beserta isinyapun  raib berubah menjadi sebuah danau yang saat ini disebut "Situ Sangiang". Para prajurit, dayang, abdi dalem, permaisuri penghuni seluruh keraton berubah wujud menjadi ikan (hingga saat ini dapat kita lihat).

Mereka para wisatawan berkunjung bukan hanya bisa menikmati pemandangan alam disekitar saja, akan tetapi beberapa pengunjung memang bertujuan untuk ziarah ke makam Sunan Parung. Selain dari wilayah Majalengka sendiri  para wisatawan banyak pula yang datang dari luar daerah.


Disekitar danau menyimpan banyak keaneragaman hayati, karena memang terletak disebuah hutan lindung kita dapat melihat binatang-binatang yang dilindungi seperti burung, monyet dan sebagainya kita dapat berinteraksi lansung dengan memberi makan. Sebelum memasuki Situ Sangiang atau tepatnya didepan pintu masuk kawasan hutan beberapa warung menjajakan roti daganganya yang dimaksudkan para wisatawan memberi makan ikan pada saat nanti memasuki area danau. Para wisatawan diperbolehkan memberi makan ikan akan tetapi tidak diperbolehkan menangkap untuk dibawa pulang. Masyarakat sekitar meyakini bahwa ikan-ikan yang terdapat di Situ Sangiang merupakan jelmaan prajurit kerajaan Talaga Manggung, oleh karena itu masyarakat setempat apabila menemukan ikan yang mati disekitar situ mereka akan mengubur layaknya manusia.

Banyak cerita unik lainnya yang mereka sampaikan diantaranya keberadaan air Situ Sangiang surut dimusim penghujan, sementara air akan bertambah pada saat musim kemarau.
Akses dari pintu masuk menuju danau dapat kita lalui dengan menggunakan jalan setapak conblock, sekelilingnya penuh dengan pepohonan yang mejulang tinggi, sesekali akan kita temui beberapa kotak amal diletakan di pinggir jalan setapak tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Kalimat Sehari-hari Dalam Bahasa Jepang

Konnichiwa, apa kabar semuanya? hari ini kita akan sedikit mengulas tentang beberapa contoh kalimat dalam bahasa Jepang yang mungkin tergolong sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bagi teman-teman yang baru pertama kali mempelajari bahasa Jepang jangan khawatir karena untuk contoh kalimat dibawah ini masih tergolong kalimat sederhana, ok langsung saja mari kita coba pelajari kalimat dibawah ini; ใ‚คใ‚นใƒฉใƒ ๆ•™ใฏไธ€ๆ—ฅใซไบ”ๅ›žใŠ็ฅˆใ‚Šใ—ใพใ™  [Isuramukyo wa ichinichi ni gokai oinorishimasu]  =Agama Islam sembahyang 5 kali dalam sehari.                                                   ๆ—ฅๆœฌไบบใฏ้ญšใ‚’้ฃŸในใ‚‹ใฎใŒๅฅฝใใงใ™ [Nihonjin wa sakana wo taberunoga sukidesu]     =Orang Jepang suka makan ikan                                                                                                         ็งใฏใ‚ใชใŸใซใŠไผšใ„ใงใใฆๅฌ‰ใ—ใๆ€ใ„ใพใ™ [Watashi wa anata ni                oaidekiteureshikuomoimasu]  =Saya merasa senang dapat bertemu dengan Anda                             ็งใฏใƒ“ใƒผใƒซใฏ้ฃฒใฟใพใ›ใ‚“ใŒ、ใ‚ธใƒฅใƒผใ‚นใ‚’้ฃฒใฟใพใ™ [Watashi wa biru wa nomimasenga,

Mengungkapkan Kesan Saat Perpisahan Dalam Bahasa Jepang

Halo halo apa kabar semua selamat datang kembali di angintropis.com, hari ini saya akan shear tentang ungkapan simple bahasa Jepang yang bisa digunakan pada saat perpisahaan. Biasanya pada saat perpisahan kita ditunjuk untuk menyampaikan  kesan dan pesan ketika berada di tempat kerja tentang kondisi pengalaman kehidupan di sana.                                                                  Tentu saja kondisi masing masing pengalaman berbeda, untuk kali ini saya menggunakan kalimat yang biasa dan mungkin pas untuk digunakan untuk para pekerja, trainee di Jepang yang ingin kembali ke tanah air. Beda lagi jika ucapannya seperti berpidato sehingga memerlukan kalimat dan kosa kata yang banyak, namun ungkapan perpisahan dibawah ini hanya sekedar contoh simple saja, Anda semua tentu saja bisa menambahkan atau memodifikasi untuk menyesuaikan jika diperlukan. Berikut ungkapan kalimat dalam bahasa Jepang pada saat perpisahaan; Versi Hiragana, Kanji ; ใฟใ‚“ใชใ•ใ‚“、๏ผ‘ๅนด้–“ๅŒๅƒšใจใ—ใฆไธ€็ท’ใซไป•ไบ‹ใŒใงใใŸใ“ใจ、ๅฌ‰ใ—ใๆ€ใ„ใพใ™。ๅˆใ‚ใฆๆ—ฅๆœฌๆฅใŸ

Contoh Percakapan Bahasa Jepang Pada Saat Periksa Ke Dokter

Hallo semuanya! Jumpa lagi dengan angintropis.com, apakabar semua semoga di tengah kondisi dari pengaruh merebaknya pandemi Covid-19 ini teman-teman semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Jangan lupa tetap menjaga kesehatan cuci tangan, pakai masker, dan tetap dirumah saja. Kali ini saya akan membagikan tentang contoh percakapan pada saat periksa ke dokter dengan bahasa Jepang.                                                                                                                                     Menyampaikan Gejala : ็—‡็Šถใ‚’ไผใˆใ‚‹:ใ—ใ‚‡ใ†ใ˜ใ‚‡ใ†ใ‚’ใคใŸใˆใ‚‹ : Shoujou wo tsutaeru Di Rumah Sakit            : ็—…้™ขใง   :ใณใ‚‡ใ†ใ„ใ‚“ใง      : Biyouin de Pemeran Percakapan ใƒชใƒŠ : Rina (Nama Orang) ๅ—ไป˜ : Uketsuke : Resepsionis ๅŒป่€… : Isha         : Dokter {็—…้™ขใฎ็ช“ๅฃใง}Byouin no madoguchide : Di Tempat pelayanan (resepsionis) Rumah Sakit                                                       ไผš่ฉฑ: Kaiwa  :Percakapan ใƒชใƒŠ :ใŠ้ก˜ใ„ใ—ใพใ™ : Onegaishimasu : Tolong ๅ—ไป˜ :ๅˆ่จบใงใ™ใ‹  : Shoshindesuka : Periksakah? ใƒชใƒŠ