Mudik ngak nih ?

Setelah setahun lebih  Covid-19 meneror kita semua, semakin hari dampaknya semakin sangat terasa, tidak hanya dalam perekonomian melainkan dalam cara kita beraktivitas sehari-hari. Sudah terasa jenuh juga mungkin dengan kondisi ini tapi harus bagaimana lagi. Ditambah beberapa kebijakan untuk menekan pertumbuhan virus ini, kembali di perayaan hari lebaran tahun 2021 pemerintah melarang kita untuk mudik. Dampaknya pro dan kontra yang luar biasa dalam masyarakat. Dokumentasi pribadi Larangan ini sangat terasa untuk para perantau seperti saya yang masih punya kampung halaman, bisa jadi bukan hanya kita yang menginginkan kita untuk pulang tetapi keluarga di kampung sana pasti banyak orang tua, keluarga dan kerabat menunggu untuk kita pulang kampung. Sebenarnya tujuan pemerintah ada benarnya juga, demi keselamatan kita bersama dan keluarga, cuman mungkin ini memiliki dampak yang cukup serius juga untuk masyarakat ditanah rantau maupun keluarga didesa yang benar benar ingin bertemu keluarga.

Destinasi Ekowisata Mangrove 40 Menit Dari Jakarta

Sejuknya angin dipagi hari mengantarkan kami untuk menuju kesebuah tempat wisata yang tak jauh dari kota Jakarta. Sungai Rindu kami menyebutnya,wisata alam yang di kelilingi oleh mangrove (bakau).

Destinasi ekowisata mangrove ini terletak di kampung Sembilangan, desa Hurip Jaya, kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Berbatasan langsung dengan Samudra Jaya, Taruma Jaya.

Pagi itu menunjukkan pukul 06:00, kami berangkat menggunakan sepeda motor dari Jakarta menuju lokasi sungai rindu, cuaca yang cerah sangat mendukung sekali untuk mengunjungi destinasi wisata yang tak jauh dari ibu kota ini.

Mengendarai sepeda motor pada saat libur kerja, menjadi hobi untuk mengisi hiruk pikuk rutinitas kehidupan di Jakarta. Tidak membutuhkan waktu yang lama sekitar kurang lebih 45 menit kami telah sampai di lokasi, dengan pemandangan hamparan rawa-rawa yang tampak sesekali masyarakat setempat memulai beraktivitas.

Kapal-kapal kayu disiapkan untuk memanjakan wisatawan yang ingin menikmati wisata air dengan pemandangan mangrove layaknya di sungai Amazon. Tidak membuang waktu, sebelum matahari merangkak naik kami pun bergegas memulai petualangan ini dengan menyewa kapal kayu dengan tarif saat itu Rp.25.000/ per orang (sudah PP).

Nahkoda kapal yang ramah mulai menyalakan mesin disel kapal untuk mengantarkan kita menyusuri sungai Rindu, awal perjalanan pemandangan sepanjang mata memandang berupa tambak tambak yang sesekali kita menjumpai nelayan yang ingin menangkap ikan.

Kami tak mau melewatkan begitu saja dengan pemandangan ini, masing masing sibuk dengan mengambil foto hutan mangrove yang lebat. Tumbuhan mangrove ini ada yang alami dan banyak pula sengaja dibudidayakan untuk mencegah terjadinya abrasi ( pengikisan daerah pantai akibat gelombang laut).

Sesampainya di penghujung kami turun untuk menikmati pemandangan hutan bakau ini dari dekat, menyusuri lokasi dengan jembatan bambu menjadi ciri khas saat kita berkunjung ke sungai Rindu. Pedagang yang sudah mulai sibuk menyiapkan dagangannya seperti peyek udang, bandeng bakar membuat perut mulai keroncongan.

Berikut video yang sempat kami abadikan; jangan lupa like dan SUBSCRIBE ya. Terima kasih



Comments

ABOUT